Spirulina platensis


Spirulina platensis adalah ganggang renik (mikroalga) berwarna hijau kebiruan yang hidupnya berada di danau iklim tropis dan subtropics dengan tingkat pH , konsentrasi karbonat dan bikarbonat  yang tinggi, biasanya berada di Afrika, Asia, dan Amerika Serikat. Spirulina platensis merupakan mikroorganisme autrotrof berwarna hijau-kebiruan dengan sel berkolom membentuk filamen terpilin menyerupai spiral (helix), sehingga disebut alga biru-hijau berfilamen (cyanobacterium) (Richmond 1988 dalam Pamungkas, 2005). Bentuk tubuh Spirulina platensis yang menyerupai benang merupakan rangkaian sel yang berbentuk silindris dengan dinding sel yang tipis, berdiameter 1-12 mikrometer. Filamen Spirulina platensis hidup berdiri sendiri dan dapat bergerak bebas (Richmond, 1988 dalam Pamungkas, 2005). Klasifikasi Spirulina menurut Bold & Wyne (1978) dalam Pamungkas (2005) adalah sebagai berikut :
Kingdom              : Protista
Divisi                      : Cyanophyta
Kelas                     : Cyanophyceae
Ordo                      : Nostocales
Famili                    : Oscilatoriaceae
Genus                   : Spirulina
Spesies                 : Spirulina platensis

Spirulina platensis mengandung vitamin (B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (nicotinamide), B6
​​(pyridoxine), B9 (asam folat), B12 (cyanocobalamin), vitamin C, vitamin D, dan vitamin E) mineral (kalsium, kromium , tembaga, besi, magnesium, mangan, fosfor, selenium, natrium, dan seng), banyak pigmen (klorofil-a, xantofil, beta-karoten, echinenone, myxoxanthophyll, zeaxanthin, canthaxanthin, diatoxanthin, 3'-hydroxyechinenone, beta-cryptoxanthin, oscillaxanthin, ditambah phycobiliproteins c-phycocyanin dan allophycocyanin (phycocyanin merupakan pigmen yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan menghasilkan antikanker (Kozlenko dan Henson, 1998; Will, 2000)), protein semua asam amino esensial dan asam esensial (asam gamma-linolenat (GLA), dan juga menyediakan asam alfa-linolenat (ALA), asam linoleat (LA), asam stearidonic (SDA), asam eicosapentaenoic (EPA), asam docosahexaenoic (DHA) , dan asam arakhidonat (AA)).



Selain sebagai sumber makanan dengan protein yang tinggi, Spirulina mempunyai beberapa manfaat lain diantaranya :
1.       Dengan sepuluh kali lebih banyak beta karoten dari pada wortel, spirulina merupakan sumber antioksidan yang sangat baik melawan penyakit.
2.       Sebuah sumber protein nabati dengan semua asam amino untuk membangun otot.
3.       Spirulina mengandung konsentrasi tinggi Vitamin B, penting untuk menjaga kesehatan jantung serta menghancurkan karbohidrat dan lipid.
4.       Salah satu dari beberapa sumber GLA, Spirulina adalah kuat anti-inflamasi yang dapat menguntungkan penderita arthritis serta mencegah penyakit jantung (Mendukung fungsi jantung dan kolesterol yang sehat)P
5.       igmen phycocyanin Memperkuat sistem kekebalan tubuh
6.       Meningkatkan pencernaan dan kesehatan pencernaan
7.       Meningkatkan pembersihan dan detoksifikasi alami
8.       Meningkatkan kulit yang sehat
9.       Pigmen phycocyanin pewarna alami untuk makanan, kosmetika, dan obat-obatan khususnya sebagai pengganti warna sintetik dan mampu mengurangi obesitas.

Spirulina merangsang sistem kekebalan tubuh dengan meningkatkan produksi antibodi dan sitokin dan dengan demikian meningkatkan ketahanan manusia, mamalia, ayam dan ikan terhadap infeksi. Di bawah pengaruh spirulina, makrofag, T dan sel B diaktifkan. SPreparations diperoleh dari biomassa SP juga telah ditemukan aktif terhadap virus herpes, cytomegalovirus, virus influenza, dll. Spirulina platensis dianggap sebagai produk fungsional kontribusi terhadap pelestarian mikroflora usus, asam laktat basil dan bifido, dan untuk penurunan di tingkat Candida albicans. Aktivitas biologis spirulina sehubungan dengan mikroorganisme memegang janji yang baik untuk menggunakan mikroalga ini sebagai komponen media kultur.

Selain bermanfaat, Spirulina juga bisa merugikan ketika diambil dalam dosis yang dianjurkan (kurang dari 50 gram / hari), hal ini dianggap relatif aman dengan sedikit efek samping. Bahaya Spirulina ada saat mengambil dosis yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar asam nukleat ganggang, yang menyebabkan asam urat meningkat. Hal ini dapat menyebabkan masalah ginjal. Bahaya lain yang mungkin dari Spirulina adalah gangguan fungsi hati, yang bisa terjadi dengan dosis tinggi mineral dan vitamin.

Referensi :

CEPHALOPODA (Loligo indica)

 
Klasifikasi cumi-cumi :
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Mollusca
Class                : Chepalopoda
Sub kelas         : Coloidea
Super ordo      : Decapodiformes
Ordo                : Decapoda
Family             : Loliginidae
Genus              : Loligo
Spesies            : Loligo indica.

1.      Morfologi
Cumi-cumi memiliki tubuh relaif lebih panjang, langsing, dan bagian belakang meruncing. Cangkang terletak didalam rongga mantel, berwarna transparan., berbentuk pena atau bulu yang terbuat dari kitin. Mantel berwarna putih dengan bintikbintik ungu hingga kehitaman yang diselubungi selaput tipis. Pada kedua sisi bagian dorsal  mantel  terdapat sirip lateral yang berbentuk segitiga. Kepala besar dengan 8 tangan dan 2 tentakel panjang. Permukaan lengan bagian dalam dilengkapi dengan batil isap, sedangkan pada tentakel hanya terdapat pada ujungnya saja. Ujung pasangan lengan IV pada jantan berubah menjadi hectocotylus.
Cumi-cumi termasuk hewan tak bertulang belakang yang tidak mempunyai tulang pada tubuhnya, meskipun disebut ikan. Mereka mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk bergerak lihai karena adanya sistem yang sangat menarik. Tubuh lunaknya diselimuti oleh lapisan pelindung tebal.
Semua cephalopoda pada dasarnya merupakan hewan plagis yang dapat berenang dengan gaya dorong jet (jet propulsion) untuk memburu mangsa. Tenaga dorong berasal dari air yang disemburkan dari rongga mantel. Mantel terdiri dari dua macam serabut otot, radial dan melingkar. Pada waktu menghisap air, otot melingkar beristirahat, sedangkan otot radial berkontraksi. Dengan demikian volume rongga mantel membesar dan air mengalir masuk ke dalamnya melalui bagian dorsal, lateral, ventral di antara tepi mantel dan kepala. Bila air dalam rongga mantel telah penuh, maka otot melingkar berkontraksi dan radial beristirahat. Dengan demikian tepi mantel sekitar kepala menutup erat dan tekanan dalam rongga mulut meningkat, sehingga air dipaksa keluar melalui corong (sifon).Air yang menyembur dari corong mempunyai tenaga dorong bagi hewan tersebut kea rah yang berlawanan.


Struktur Anatomi Cumi-cumi
o    Faring : bagian depan kerongkongan berfungsi untuk mengisap makanan dari mulut dan membasahinya dengan lendir.
o    Mulut : tempat masuknya makanan.
o    Mata : sebaga alat penglihatan
o    Tentakel : berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat penagkap mangsa.
o    Anus : mengeluarkan sisa metabolisme.
o    Hati : mengambil sari-sari makanan dalam darah dan sebagai tempat penghasil empedu.
o    Esofagus : saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan rongga mulut dan lambung.
o    Insang : sebagai organ pernapasan.
o    Lambung : sebagai bagian dari organ pencernaan.
o    Cangkang dalam : sebagai pelindung organ tubuh bagian dalam.
o    Ovarium : penghasil sel telur.Rektum : sebagai bagian usus belakang yang membuka ke anus.
o    Kantung tinta : kantung selaput yang terdapat pada cumi,yang mengandung tinta. Tinta akan di semprotkan bila cumi merasa terganggu akan kedatangan / beretemu pemangsa/predator.
2.      Makan
Cumi-cumi adalah carnivora. Ini berarti pemakan daging. Cu,i-cumi memiliki gigi yang menyerupai paruh burung yang tajam. Tentakel yang lebih panjang menangkap mangsa. Cumi-cumi menarik makanan itu dengan tentakel yang lebih pendek ketika makanan itu terenggut dengan kekuatan seperti paruh bebek. Kemudian radula membenturkan makanan turun ke kerongkongan sehingga akan turun ke perut untuk di cerna. Radula adalah pita tanduk pada lidah.
Cumi-cumi sangat terbantu selama berburu dengan adanya alat peraba (tentakel) pada mulutnya. Tentakel yang seperti cambuk ini biasanya tetap tergulung dalam kantung yang terletak di bawah lengan-lengannya. Ketika menemukan mangsa, cumi- cumi menjulurkan tentakel untuk menyergapnya. Makhluk ini bergantung pada lengan- lengannya (keseluruhan berjumlah delapan) yang telah dirancang dengan tepat. Ia mampu dengan mudah mencabik-cabik seekor kepiting menjadi serpihan kecil dengan menggunakan paruhnya. Cumi-cumi menggunakan paruhnya dengan begitu terampil sehingga mampu dengan baik melubangi kulit cangkang kepiting dan mengeluarkan dagingnya .

3.      Reproduksi
Cumi-cumi berproduksi secara sexual. Cumi-cumi betina mengeluarkan banyak benang telur ke dalam air. Cumi-cumi jantan mengeluarkan sperma. Salah satu tangan cumi jantan yaitu hectocotylus bemodifikasi untuk memindahkan spermatofora ke dinding rongga mantel betina dekat oviduct.
Terdapat pula rancangan sempurna pada sistem perkembangbiakan cumi-cumi. Telurnya memiliki permukaan lengket karena dibungkus oleh albumin yang memungkinkannya menempel pada rongga- rongga di kedalaman lautan. Janin ini memakan sari makanan yang telah tersedia dalam telur hingga siap menetas. Janin ini memecah selubung telur dengan cabang kecil mirip sikat pada bagian ekornya. Alat ini segera hilang setelah telur menetas. Setiap seluk beluknya telah dirancang dan bekerja sebagaimana direncanakan.
Musim kawin cumi-cumi terjadi pada permulaan musim penghujan dan awal musim kemarau. Cumi-cumi diduga dapat memijah 1 kali dalam hidupnya dan biasanya mati setelah reproduksi.
Cumi-cumi tidak mengenal fase larva berarti ketika menetas cumi-cumi langsung berbentuk seperti induknya.

4.      Ancaman
Sebagai komponen biotic dalam ekosistem laut, anak cumi-cumi juga menjadi mangsa dari organism laut lain.Jenis pemangsa yang menyukai anak cumi-cumi adalah lumba-lumba, anjing laut, singa laut, ikan paus, dan ikan predator.

5.      Ekologi
Habitat cumi-cumi adalah perairan laut terbuka. Cumi-cumi memiliki mata layaknya hewan bertulang belakang sehingga mampu mengetahui datangnya mangsa ataupun musuh. Cumi-cumi lebih banyak bergerak pada massa air untuk mengejar mangsanya. Cumi-cumi bersifat fototaxis positif, suka atau tertarik mendekati cahaya. Bila merasa terancam, cumi-cumi akan mengeluarkan air dari dalam ronggamantel melalui sifon atau menyemburkan tinta yang berwarna hitam kebiruan. Setelah disemprotkan cairan tinta tersebut tidak akan larut dalam air melainkan masih menggumpal, pada saat itulah cumi-cumi akan meninggalkan tempat tersebut.
Di bawah kulit cumi-cumi tersusun sebuah lapisan padat kantung-kantung pewarna lentur yang disebut kromatofora. Dengan menggunakan lapisan ini, cumi-cumi dapat mengubah penampakan warna kulitnya, yang tidak hanya membantu dalam penyamaran akan tetapi juga sebagai sarana komunikasi. Misalnya, seekor cumi-cumi jantan menunjukkan warna yang berbeda ketika kawin dengan warna yang digunakan ketika berkelahi dengan seekor penantang.
Saat cumi-cumi jantan bercumbu dengan cumi-cumi betina, kulitnya berwarna kebiruan. Jika jantan lain datang mendekat pada waktu ini, ia menampakkan warna kemerahan pada separuh tubuhnya yang terlihat oleh jantan yang datang itu. Merah adalah warna peringatan yang digunakan saat menantang atau melakukan serangan.
Daftar Pustaka

Kordi K, M Ghufran H. 2010. A to Z Budidaya Biota Akuatik untuk Pangan, Kosmetik, dan Obat-obatan. Lily Publisher. Yogyakarta.
Kuncono, Eko Budi. 2004. Akuarium Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Pollock, Steve. 2000. Jendela Iptek Seri 10 : Ekologi. Balai Pustaka. Jakarta
Suwignyo, Sugiarti.2005. Avertebrata Air. Penebar  Swadaya. Jakarta

Sponge Si Penghasil Bioaktif


 
Biota laut daerah tropis merupakan sumber alam yang kaya akan senyawa bioaktif. Pencarian bahan obat dari laut menghasilkan beberapa temuan baru yang menginspirasikan bahwa laut adalah sumber bahan obat yang potensial.
 Telah banyak dilaporkan bahwa sponges sangat potensial sebagai penghasil produk alami laut dalam bidang farmasi (Mayer ,1999; Munro et al., 1987; Faulkner, 2000). Organisme laut dalam hidupnya sangat tergantung kepada faktor lingkungan yang sering sekali menjadi faktor pembatas kehidupannya, seperti: cahaya, nutrisi, oksigen, dan pesaing (kompetitor). Dalam rangka mempertahankan kehidupannya, organisme ini melakukan serangkaian mekanisme adaptasi secara morfologis, anatomis, fisiologis dan kemis. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh sponges secara ekologis dapat dipandang sebagai salah satu cara dari organisme ini untuk mempertahankan diri dari predator dan mengurangi resiko akibat ekspose radiasi sinar matahari.
Dikemukakan oleh Jadulco (2002) bahwa sponge dari Indonesia, Jaspis splendens, menghasilkan senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki aktifitas antiproliferasi. Disamping itu, para peneliti bioteknologi kelautan Jepang, seperti Namikoshi menyimpulkan bahwa distribusi fungi laut yang hidup bersimbiosis dengan sponge cukup besar, dengan sebaran 82,7% sponge yang hidup di perairan pulau Palau, dan 98% sponge yang hidup di perairan pulau Bunaken (Widjhati et al., 2004). Menurut Lik Tong Ten et al. (2000) simbiosis sponge Sigmadocia symbiotica dengan alga merah Ceratodictyon spongiosum menghasilkan senyawa bioaktif berupa metabolit sekunder siklik heptapeptida yang bersifat toksik terhadap Artemia salina (uji BSLT). Hasil-hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa biota laut sponge memiliki potensi signifikan sebagai sumber senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi komoditi yang bernilai ekonomi tinggi.
Kelompok peneliti bioteknologi di Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, kini sedang aktif melakukan proses ekstraksi dan isolasi senyawa aktif dari berbagai jenis makroalga dan sponge serta uji-uji bioaktivitasnya sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, toksisitas terhadap Artemia salina dan sitotoksisitas sebagai anti-kanker terhadap beberapa jenis sel lestari (cell line). Saat ini koleksi sponge yang telah dimiliki sekitar 60 jenis dari perairan Karimunjawa, semua sampel tersebut diambil dari berbagai kondisi lokasi perairan (habitat) dan dari berbagai kedalaman.
Sebagian besar sponge mengandung alkaloid, lalu terpenoid,kemudian steroid. Setiap spons tidak selalu memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama dengan spons lainnya demikian pula golongannya ada yang mengandung hanya alkaloid saja, atau steroid saja, atau terpenoid saja, ataupun dua ataupun ketigatiganya. Hal ini dapat dimengerti karena pembentukan metabolit sekunder dalam spons sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya (BERGMAN & FEENEY 1990).
Kandungan metabolit sekunder dalam spons jenis tertentu ada yang lebih kuat (more intens) daripada di dalam jenis lainnya yang ditandai dengan warna yang timbul pada uji kualitatif.
Kalau dilihat dari kandungan metabolit sekundernya Sponge dari Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk menghasilkan bioaktif ini terlihat dari kandungan alkaloid, terpenoid, dan steroidnya. Sejumlah terpenoid memiliki sifat antikanker (AOKI et al. 2001). Sedangkan steroid dan alkaloid memiliki khasiat lebih luas tergantung substituentnya.


Referensi :
-          Munifah, Ifah.  Wikanta, Thamrin. dan Nursid, M. Sponge: Biota laut penghasil senyawa bioaktif yang potensial. Laboratorium Bioteknologi Kelautan Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial-Ekonomi Kelautan dan Perikanan
-          Suryanto, Agung. Dkk. Penelitian Identifikasi Potensi Ekosistem Biota Laut Kepulauan Karimunjawa
-          Rachman, Racmaniar. 2007. SPONS INDONESIA KAWASAN TIMUR (Keragaman, Distribusi, Kelimpahan, dan Kandungan Metabolit Sekundernya). Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI.